Sabtu, 16 April 2011

akhlak tawaddu'

BAB II
PEMBAHASAN

II. I. Pengertian Tawadhu’, Taat, Qana’ah, dan Sabar
Adapun yang disebut dengan akhlak terpuji adalah segala tingkah laku yang terpuji (mahmudah) yang dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri serta bernilai pahala jika seseorang melaksanakannya tanpa pamrih dan merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah swt.
Akhlak yang baik dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik, seperti sikap tawadhu’, taat, qana’ah, dan sabar. Beberapa perilaku tersebut adalah hasil dari sifat-sifat baik yang dimiliki seseorang akibat dari pemahaman mereka terhadap hakikat dari akhlak terpuji.

II.I.I. Pengertian Tawadhu’
Tawadhu’ adalah kepasrahan menerima kebenaran dari siapapun datangnya, baik miskin ataupun kaya, mulia ataupun hina, lawan ataupun teman.
Tawadhu’ mempunyai dua arti. Pertama, pasrah terhadap kebenaran serta menerima kebenaran tersebut dari siapapun datangnya. Kedua, tawadhu’ adalah menundukkan pundak anda terhadap orang lain. Artinya menundukkan pundak ialah bergaul dengan orang lain secara lembut, siapapun mereka baik pelayan ataupun yang dilayani, orang mulia atau terhina
Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.
Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.
Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur (sombong), sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Dalam Q.S. Luqman: 18-19
   ••  •   •  •    •           •     
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Jika anda mengangkat kepala di hadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya, atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu’ dan anda memiliki benih sifat sombong.
Tahukah anda apa yang diperbuat Allah swt terhadap Iblis yang terkutuk? Dan apa yang diperbuat Allah kepada Fir’aun dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dengan semua anak buah dan hartanya? Dan kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah swt karena tidak memiliki sikap tawadhu’ dan sebaliknya justru menyombongkan dirinya.

II.I.II. Pengertian Taat
Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh, baik terhadap Allah, Rasul maupun Ulil Amri (pemimpin). Hal ini tertuang di dalam Q.S. An-Nisa’: 59
                              
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.“

Berpedoman pada firman Allah swt diatas yang memerintahkan orang-orang yang beriman supaya selalu memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, Rasul maupun Ulil Amri. Soal pemimpin yang bagaimana yang harus ditaati tersebut? Tentu pemimpin yang juga taat kepada Allah dan Rasulnya, lalu masih adakah pemimpin yang memiliki sifat seperti yang di uraikan diatas? Yang lebih mengutamakan kepentingan umum & rakyat diatas kepentingan pribadi dan keluarganya?
Taat pada Allah tidak hanya asal taat, di dalam pelaksanaan teknisnya harus benar dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan dengan tanpa alasan apapun menghentikan segala larangan-Nya. Sebenarnya apa-apa yang menjadi perintah Allah swt sudah tidak diragukan lagi pasti tersimpan segala kemaslahatan (kebaikan), sedangkan apa-apa yang menjadi larangan-Nya sudah tertulis akan segala kemudharatanya (keburukan). Kemudharatan (bencana alam dimana-mana) yang sering terjadi akhir-akhir ini merupakan imbas dari tidak menghiraukan segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Q.S Ali Imran: 32 memperjelasnya:
       •     
“Katakanlah, taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.“
Begitu juga ketaatan kepada Rasul, yaitu Rasulullah saw dengan selalu mengimplementasikan yang terdapat dalam hadits beliau. Sebagai utusan Allah, Nabi Muhammad saw mempunyai tugas menyampaikan amanah kepada umat manusia tanpa memandang status, jabatan, suku dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi setiap muslim yang taat kepada Allah swt harus melengkapinya dengan mentaati segala perintah Rasulullah saw sebagai utusan-Nya. Sebagaimana Firman Allah di dalam Q.S At-Taghabun: 12
            
“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.“
Allah swt adalah adalah Sang Khalik, pencipta alam semesta beserta isinya ini. Rasulullah saw adalah utusan-Nya untuk seluruh umat manusia bahkan kelahiran dari beliau, alam semesta ini mendapat rahmat yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, siapapun yang telah berikrar (bersyahadat) maka dengan sendirinya lahirlah suatu kewajiban dalam bentuk ketaatan kepada keduanya dalam situasi dan kondisi apapun. Namun, jenis ketaatan seperti yang disebutkan di atas akan lebih sempurna kalau diiringi dengan ketaatan dan kepatuhan kepada Ulil Amri atau pemimpin. Ketaatan tersebut dalam artian harus selalu taat dan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditelurkan secara bersama, tentu selama peraturan itu masih diatas nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menyimpang dari aturan agama Islam. Ketaatan itu bukan hanya harus diimplementasikan pada pemimpin dalam artian luas saja, dalam artian sempit pun harus menjadi keseharian kita, seperti taat kepada orang-orang yang memiliki kuasa dan kedudukan yang lebih tinggi. Seorang anak harus taat dan patuh pada kedua orang tuanya, murid kepada gurunya, istri kepada suaminya dan sebagainya.
Ketatatan yang kita lakukan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri merupakan ketaatan yang akan berakibat baik terhadap amal ibadah kita selama ketatan tersebut tidak diselimuti oleh berbagai bentuk kebohongan, penyakit hati, kemunafikan dan sebagainya. Islam justru sangat memuliakan umatnya yang memiliki sifat tawadhu’ dengan selalu merendahkan hati baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Kita sebagai muslim harus menyadari bertawadhu’ merupakan bagian dari Akhlakul Karimah yang melahirkan manusia-manusia yang berperilaku baikdengan memunculkan suatu kesadaran akan hakikat kejadian dirinya dan tidak pernah mempunyai alasan untuk merasa lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih tampan, lebih cantik maupun lebih-lebih lainnya antara dirinya dengan orang lain. Dalam Q.S. Al-Furqan: 63 dijelaskan:
            
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
II.I.III. Pengertian Qana’ah
Qana’ah, yaitu kemampuan diri dalam menerima dan mensyukuri, serta merasa cukup terhadap setiap anugerah dan nikmat Allah. Qana’ah juga berarti rela menerima apa adanya dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Dalam Q.S. Al-Baqarah: 157
          
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Qana’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qana’ah akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan, sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial. Nabi saw bersabda dalam salah satu haditsnya:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ اْلغَنِيُّ عَنْ كَثْرَةِ اْلعَرْضِ وَلَكِنَّ اْلغِنَى غِنَى النَّفْسِ (متفق عليه)
"Dari Abu Hurairah r.a. bersabda Nabi saw: Bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati". (H.R. Bukhari & Muslim(

Karena hatinya senantiasa merasa berkecukupan, maka orang yang mempunyai sifat Qana’ah, terhindar dari sifat loba dan tamak, yang cirinya antara lain suka meminta-minta kepada sesama manusia karena merasa masih kurang puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Sabda Rasulullah saw:

عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عَمْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا اَتاَهُ. (رواه مسلم)
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup serta merasa cukup dengan apapun pemberian Allah swt kepadanya.” (HR. Muslim)

Disamping itu Qana’ah juga berfungsi sebagai dinamisator, yaitu kekuatan batin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia Allah.
II.I.IV. Pengertian Sabar
Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang. Sabar adalah kekhasan manusia, sesuatu yang tidak terdapat di dalam binatang sebagai faktor kekurangannya, dan di dalam malaikat sebagai faktor kesempurnaannya. Abdullah Al-Yamani, dalam bukunya tentang sabar mengartikan bahwa sabar adalah menahan diri dalam kesulitan. Adapun secara terminologi, kata sabar adalah menahan jiwa atau diri untuk tidak galau, menahan lisan untuk tidak mengeluh, serta menahan tangan dan kaki untuk tidak berlaku kasar terhadap orang lain.
Binatang telah dikuasai penuh oleh syahwat. Karena itu, satu-satunya pembangkit gerak dan diamnya hanyalah syahwat. Juga tidak memiliki “kekuatan” untuk melawan syahwat dan menolak tuntutannya, sehingga kekuatan menolak tersebut bisa disebut sabar.
Sebaliknya, malaikat dibersihkan dari syahwat sehingga selalu cenderung kepada kesucian ilahi dan mendekat kepada-Nya. Karena itu tidak memerlukan “kekuatan” yang berfungsi melawan setiap kecenderungan kepada arah yang tidak sesuai dengan kesucian tersebut.
Tetapi manusia adalah makhluk yang dicipta dalam suatu proses perkembangan; merupakan makhluk yang berakal, mukallaf (dibebani) dan diberi cobaan, maka sabar adalah “kekuatan” yang diperlukan untuk melawan “kekuatan” yang lainnya. Sehingga terjadilah “pertempuran” antara yang baik dengan yang buruk. Yang baik dapat juga disebut dorongan keagamaan dan yang buruk disebut dorongan syahwat.
Aspek kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh orang mengenai kata sabar. Imam al-Ghazali berkata, “Bahwa sabar itu ada dua; pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah al-shabru al-nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu.

Kahar Masyhur dalam bukunya juga menjelaskan adanya beberapa macam tingkatan sabar, antara lain:
1. Shiddiiquun (صديقون)
Yaitu kesabaran yang dimiliki oleh orang-orang yang benar lahir bathinnya. Yang termasuk tingkatan ini adalah para Nabi dan Rasul Allah serta para sahabat.
2. Muqarrabuun (مقربون)
Yaitu kesabaran yang dimiliki oleh orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah swt dengan mengerjakan semua yang telah diperintahkan atasnya. Walaupun secara lahir terlihat patuh, namun bathinnya terkadang tidak begitu. Untuk mencapai tingkatan ini belum tertutup pintu, sehingga tiap manusia berhak untuk mencapainya.
3. Mujaahiduun (محاهدون)
Yaitu kesabaran yang dimiliki oleh orang-orang yang berjuang keras dalam melawan hawa nafsunya dan manusia yang berada dalam tingkatan ini telah banyak di masyarakat kita.
4. Ghaafiluun (غافلون)
Yaitu kesabaran yang dimiliki oleh orang-orang yang telah banyak sekali mendapat kekalahan dari kemenangan lawannya karena akalnya mudah dikalahkan, bahkan ia tidak mau tahu tentang rahasia yang Allah swt tetapkan untuknya sedikitpun, sehingga meskipun ia mengaku sebagai orang Islam namun tidak ada artinya sama sekali.

II. II. Contoh Perilaku Tawadhu’, Taat, Qana’ah, dan Sabar
II.II.I. Contoh Perilaku Tawadhu’
Tawadhu’ termasuk akhlak terpuji yang memang harus diajarkan sejak dini pada peserta didik. Walaupun pada dasarnya bukan suatu hal yang mudah untuk memberikan pengajaran mengenai tawadhu’ pada peserta didik kita yang masih baru menyelesaikan pendidikan dasarnya ini.
Adapun mengenai pendidikan tawadhu’ ini kami menyajikan contoh yang ada pada lingkungan sekitar, seperti sikap tawadhu’ yang sudah melekat pada tiap santri pondok pesantren. Secara keseluruhan para santri ini memiliki sifat tawadhu' yang sangat besar terhadap gurunya terlebih kepada pengasuh pesantren. Dalam sifat tawadhu' dapat kita lihat dalam beberapa hal sebagaimana berikut ini:
1. Santri memiliki kebiasaan mencium tangan kyai dan gurunya.
2. Tidak menatap wajah guru ketika berhadapan.
3. Menundukkan kepala ketika berada didepan gurunya.
4. Suaranya lebih rendah ketika berbicara dengan gurunya.
5. Menggunakan bahasa yang sopan ketika berbicara.

Namun ada pula santri yang berani serta kurang memiliki sikap tawadhu’ terhadap gurunya, tetapi keberanian tersebut sebatas penolakan terhadap perintah guru yang sifatnya emosi sesaat seperti terlihat setelah menerima hukuman dari seorang kyai/ guru ketika ia melanggar tata tertib pondok pesantren.
Di sisi lain ada juga semacam dikotomi (perbedaan) antara guru yang mengajar mata pelajaran umum yang berada di sekolah formal dengan guru yang mengajar mata pelajaran agama. Ini terlihat dari bentuk penghormatan dan ketawadhu'an seorang santri terhadap guru tersebut. Santri lebih memiliki penghormatan yang lebih terhadap guru mata pelajaran agama karena mereka lebih memiliki ta'alluq (hubungan) yang sangat besar dari pada guru pengajar pengetahuan umum. Dan begitu sebaliknya guru pada pendidikan formal dihormati tetapi penghormatan terhadap mereka kurang karena mereka merasa kurang memiliki ta'alluq (hubungan) terhadap guru tersebut.

II.II.II. Contoh Perilaku Taat
Perilaku taat banyak tercermin dalam kehidupan manusia. Salah satunya dalam kehidupan sosial dan agama mereka. Seseorang dikatakan taat pada Allah swt jika ia melaksanakan perintah-Nya. Misalnya, Allah menyuruh makhluk-Nya untuk selalu beribadah menyembah-Nya, maka sebagai wujud ketaatan seseorang pada Tuhannya adalah dengan melaksanakan ibadah tersebut sesuai dengan perintah-Nya.
Berikut akan kami sajikan dalam bentuk yang lebih sederhana dan dapat mudah di pahami dan di baca secara singkat dan jelas. Beberapa contoh perilaku taat antara lain:
1. Perilaku taat seorang hamba pada Tuhannya dengan melaksanakan perintah-Nya yang telah menjadi kewajibannya. Misal: Melaksanakan kewajiban Sholat, Puasa, Zakat dll.
2. Perilaku taat seorang anak pada orang tuanya. Misal: Berperilaku baik dan sopan terhadap orang lain sesuai dengan nasehat orang tua, tidak membantah apa yang telah diperintahkan orang tua selama itu baik.
3. Perilaku taat seorang siswa pada gurunya. Misal: Mengerjakan tugas yang telah diberikan guru dengan tepat waktu.
4. Perilaku taat seorang pegawai kepada atasannya. Misal: mengerjakan tugas-tugas yang telah dibebankan kepadanya dengan ikhlas dan tanpa pamrih.
5. Perilaku taat seorang santri kepada pengasuhnya/ kyainya.
6. Perilaku taat seseorang yang lebih muda usianya terhadap orang yang lebih tua.
7. Dll.

II.II.III. Contoh Perilaku Qana’ah
Qana’ah seharusnya merupakan sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan.
Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang memiliki sifat Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah swt. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. orang yang memiliki sifat Qana’ah, memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah ketentuan Allah. Firman Allah swt dalam Q.S. Hud: 6
                
“Tiada sesuatu yang melata di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizqinya, dan Dia Mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Contoh perilaku qana’ah yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul Allah adalah sebagaimana berikut:
1. Sikap qana’ah Nabi Yusuf a.s. ketika ia diangkat menjadi saudagar kaya ia selalu memberikan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan.
2. Sikap qana’ah Nabi Sulaiman a.s. atas kekayaan yang Allah swt berikan kepadanya dengan berlimpah banyaknya, namun beliau tidak pernah pelit dan merasa sombong terlebih merasa kekurangan atas kekayaan yang dimilikinya.
3. Sikap qana’ah yang dimiliki Rasulullah saw atas rizki yang dilimpahkan kepada beliau. Beliau selalu merasa berkecukupan atas nikmat Allah tersebut dan tetap menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan.

Qana’ah itu bersangkut paut dengan sikap hati atau sikap mental. Oleh karena itu untuk menumbuhkan sifat Qana’ah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat pemulaan mungkin merupakan sesuatu yang memberatkan hati, namun jika sifat Qana’ah sudah membudaya dalam diri dan telah menjadi bagian dalam hidupnya maka kebahagiaan didunia akan dapat dinikmatinya, dan kebahagiaan di akhirat kelak akan dicapainya.
Demikianlah betapa pentingnya sifat Qana’ah dalam hidup, yang apabila dimiliki oleh setiap orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong terwujudnya masyarakat yang penuh dengan ketentraman, tidak cepat putus asa, dan bebas dari keserakahan,serta selalu berfikir positif dan maju.
Betapa tidak, karena sebenarnya dalam Qana’ah terkandung unsur pokok yang dapat membangun pribadi muslim yang menerima dengan rela apa adanya, memohon tambahan yang pantas kepada Allah serta usaha dan ikhtiar, menerima ketentuan Allah dengan sabar, bertawakkal kepada Allah, dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

II.II.IV. Contoh Perilaku Sabar
Bermacam-macam contoh perilaku sabar telah ada dalam hikayat-hikayat para Nabi terdahulu. Bercerita dengan mencontohkan perilaku sabar para Nabi dan Rasul ini adalah metode yang sangat tepat untuk diterapkan pada peserta didik kita. Dengan harapan agar mereka termotivasi dengan perilaku sabar para Nabi dan Rasul Allah kemudia membiasakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Berikut akan kami sebutkan beberapa contoh perilaku sabar menurut pandangan para ulama’, antara lain:
- Seseorang yang sabar dalam ketaatan kepada Allah swt.
Seorang hamba harus sabar untuk tetap mentaati Allah swt, sebab taat kepada-Nya sangat berat dan sulit bagi diri dan jiwa seseorang, bahkan mungkin berat juga bagi fisiknya. Karena di samping fisik manusia sering merasa payah dan letih, juga kadang ia dibenturkan pada kendala ekonomi dan financial, seperti dalam masalah zakat dan haji.
Yang terpenting adalah bahwa ketaatan itu mengandung masyaqah (beban berat) bagi jiwa dan fisik. Maka dari itu, untuk melaksanakannya dibutuhkan kesabaran dan kesiapan untuk menanggung derita tersebut. Firman Allah dalam Q.S. Ali Imran: 200 disebutkan:
      •    
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu).”

- Seseorang yang sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah swt yang telah dijaramkan-Nya.
Seorang hamba Allah swt dituntut untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah swt atasnya. Jiwa itu penuh amarah yang selalu menjerumuskannya ke dalam keburukan. Oleh sebab itu, seseorang dituntuk untuk menyabarkan dirinya agar tidak melakukan hal-hal buruk tersebut, seperti berbohong, menipu, memakan harta anak yatim, melakukan riba, mencuri, berzina, meminum khamr, dan maksiat yang lain.
- Sabar dalam menghadapi ketentuan dan putusan Allah swt sekalipun itu menyakitkan.
Ketentuan-ketentuan Allah swt terhadap manusia itu ada yang sesuai dan ada pula yang menyakitkan. Ketentuan yang sesuai dengan harapannya harus disyukuri dengan baik, karena syukur adalah salah satu bentuk ketaatan, sementara sabar untuk tetap taat merupakan jenis pertama dari kesabaran itu sendiri.
Adapun ketentuan Allah swt yang menyakitkan ata yang tidak sesuai dengan kehendak dan kemampuan manusia contohnya adalah jika seseorang diuji badan, fisik, dan hartanya, atau diuji keluarga dan masyarakatnya. Yang penting, untuk menghadapi ujian yang beragam itu dituntut sikap sabar dan tegar. Seseorang dituntut untuk sabar dengan tidak menampakkan keluhannya, baik dengan ucapan, hati, ataupun tindakan.
Bentuk kesabaran ini (non fisik) beraneka macam:
- Jika berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah
- Jika di dalam musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah keluh kesah.
- Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr(
- Jika sabar di dalam peperangan dan pertempuran disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut).
- Jika sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah tadzammur (emosional(
- Jika sabar dalam menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia(
- Jika sabar dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah(

Perilaku sabar pun tercermin dalam kisah para Nabi dan Rasul sebagaimana berikut:
1. Kesabaran Nabi Adam a.s dan Siti Hawa dalam mendapatkan hukuman dari Allah swt akibat ketidaktaatannya pada perintah Allah dengan menurunkan mereka ke bumi dan tidak bertemu selama berahun-tahun lamanya.
2. Kesabaran Nabi Nuh a.s terhadap perilaku umatnya dan anaknya Kan’an yang membangkang dan tidak mau taat dengan ajakan Nabi Nuh untuk menyembah kepada Allah swt.
3. Kesabaran Nabi Ibrahim a.s dalam api yang membakar dirinya akibat ulah umatnya yang sangat benci dengan ajakan beliau untuk menyembah Allah swt.
4. Kesabaran Nabi Luth a.s dalam menghadapi umatnya yang bertingkah laku tidak benar dengan saling menyukai sesama jenis.
5. Kesabaran Nabi Ya’qub a.s atas ujian yang diberikan Allah swt berupa sakit keras dan tak kunjung sembuh.
6. Kesabaran Nabi Musa a.s dalam menghadapi perilaku Raja Fir’aun yang menyebut dirinya sebagai Tuhan.
7. Kesabaran Nabi Sulaiman a.s dalam memiliki harta yang melimpah untuk tidak menghamburkan-hamburkannya dengan percuma serta sabar dalam menghadapi cobaan seorang wanita yang bernama Ratu Bilqis yang pernah menggoda dirinya.
8. Kesabaran Nabi Yunus a.s atas ujian dari Allah swt ketika berada dalam perut ikan paus selama berhari-hari dengan tanpa sedikitpun makanan.
9. Kesabaran Nabi Isa a.s dari kejaran umatnya yang membangkang dan sangat ingin membunuhnya.
10. Kesabaran Nabi Muhammad saw yang bertahun-tahun lamanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi dari cacian dan kejaran kaum Kafir Quraisy yang sangat membenci beliau dan ingin membunuh beliau beserta keluarga.

II.III. Metode Pembelajaran Akhlak Terpuji Pada Peserta Didik
Adapun metode pembelajaran dalam membiasakan seorang peserta didik yang tepat untuk selalu memiliki perilaku terpuji seperti tawadhu’, taat, qan’ah dan sabar adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya dengan metode cerita dan percontohan. Karena dengan itu, selain termotivasi dengan cerita-cerita yang diberikan, mereka juga dapat melihat secara nyata contoh sikap terpuji yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari.
Ada 5 metode pendidikan anak yang efektif akan kami jelaskan secara singkat, antara lain:
1. Pendidikan dengan Keteladanan
Kita memberikan keteladanan pada anak dengan menceritakan:
a. Ibadah Rasul
b. Kepemurahan Rasul
Kalau mereka menghendaki sesuatu, maka ajaklah mereka untuk banyak memberi dan jelaskan pada mereka bahwa Allah swt pasti mengganti pemberian kita kepada orang lain dengan pemberian yang lebih. Dan pada anak yang berumur 2-3 tahun, ego anak sudah mulai muncul, oleh kerena itu ajarkan kepada mereka kepemilikan dan murah hati.
c. Kezuhudan Rasul
d. Sikap tawadhu’ Rasul
e. Sikap sabar, qana’ah dan penyantun Rasul
f. Sikap kesehatan dan keberanian Rasul
Keteladan di atas akan lebih terekam pada diri anak jika mereka jika mereka kita ajak untuk mempraktekkannya.
2. Pendidikan dengan Pembiasaan
Biasakan anak dengan sesuatu yang baik. Kebiasaan itu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Misalnya bagi anak perempuan, biasakan pakai jilbab sedari kecil. Jangan lupa kita juga harus punya argumentasi dalam memberlakukan kebiasaan itu pada anak.
3. Pendidikan dengan Memberikan Pelajaran
a. Ajakan-ajakan/ seruan-seruan yang argumentatif. Misalnya bercerita mengenai nasihat Lukman untuk anaknya yang tertuang dalam Surat Lukman.
b. Al-Uslubul-Qoshoshi: Cerita-cerita yang ada di dalam Al-Qur’an. Misalnya bercerita mengenai kisah Nabi Yusuf, Siti Maryam, Ashabul Kahfi, Bani Israil dll.
c. Pesan-pesan langsung atau dengan perintah-perintah praktis.
4. Pendidikan dengan Pengawasan dan Pengamatan. Hal yang diamati antara lain:
a. Dimensi Iman (hatinya)
b. Dimensi Akhlak (tingkah lakunya)
c. Dimensi Pengetahuan (akalnya)
d. Dimensi Fisik
e. Dimensi Psikis (emosinya)
f. Dimensi Tingkah laku sosial (sosialisasinya)
5. Pendidikan dengan Memberikan Sangsi

Berikut ini adalah cara Rasulullah saw dalam mendidik dan mengajari putra/ putrinya dalam hal berperilaku terpuji, seperti tawadhu’, taat, qana’ah, dan sabar antara lain:
a. Dialog
b. Perumpamaan
c. Ringkas dan tidak membosankan serta tepat
d. Memperhatikan keadaan dan kesempatan
e. Mendahulukan yang lebih penting (menjawab pertanyaan tidak harus sama).
Ada juga beberapa metode pembelajaran dalam bersikap qana’ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikannya. Di antaranya, yaitu:

1. Memperkuat Keimanan Kepada Allah swt
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah swt, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.
Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.
2. Yakin Bahwa Rizki Telah Tertulis
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud r.a., disebutkan sabda Rasulullah saw di antaranya:
“Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad(

Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah swt yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.
3. Memikirkan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Agung
Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, yaitu:

•   ••              
   
”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Fathiir: 2(

              •  
          
“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (Q.S.Yunus: 107(

            
    
”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Huud: 6(

                 
          
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Q.S. Ath-Thalaq: 7)


4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Di antara hikmah Allah swt menentukan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberikan pelayanan dan jasa. Allah swt berfirman:
        •      
             

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Az-Zukhruf: 32(

          
    •       

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Q.S.Al-An’am: 165)
5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah
Rasulullah saw adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah swt agar diberikan qana’ah, beliau berdo'a:
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Hakim)

Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah swt kecuali sekedar cukup untuk kehidupan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau:
“Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
6. Menyadari Bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian
Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.
Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.
7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia
Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi saw:
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Bukhari & Muslim(

Jika saat ini anda sedang sakit, maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir, maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?
8. Membaca Kehidupan Salaf
Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.
9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta
Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemiliknya jika dia tidak mendapatkannya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.
Ketika seorang hamba ditanya tentang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.
10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.
Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif.

Daftar Pustaka

Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur'an. Jakarta: Amzah
Annila Syiva, Qana’ah atau Berpikir Positif, Kamis, 26/10/2006 06:04 pm, [Tersedia] http://annilasyiva.multiply.com/journal/item/45 [Online] Selasa, 12 oktober 2010
Al-Yamani, Abdullah. 2009. Sabar. Jakarta: Qisthi Press
Etika Suryandari, Metode Pendidikan Anak yang Efektif, Kamis, 04/06/2009 [Tersedia] http://thickozone.blogspot.com/2009/06/metode-pendidikan-anak-yang-efektif.html [Online] Selasa, 12 Oktober 2010
Fadholi, Mohammad. Keutamaan Budi dalam Islam. Surabaya: Usana Offset Printing
http://www.crayonpedia.org/mw/perilaku-terpuji/tawadhu’/taat/qana’ah/sabar
Khalid, Amru. 2007. Berakhlak Seindah Rasulullah. Semarang: PT Pustaka Riski Putra
Masyhur, Kahar. 1994. Membina Moral dan Akhlak. Jakarta: PT Rineka Cipta
Muhammad Jamhuri, Sabar Menurut Al-Qur’an, Rabu, 6 Juni 2007 [Tersedia] http://muhammadjamhuri.blogspot.com/2007/06/sabar-menurut-al-quran.html [Online] Selasa, 12 Oktober 2010
Sugiyanta, Akhlak Santri dalam Abad 21, 04/2010 [Tersedia] http://twobexmisbach.blogspot.com/2010/04/sifat-tawadhu-andap-ashor-seorang.html [Online] Selasa, 12 Oktober 2010
Ummu Salama, Jalan Menuju Qana’ah, Senin, 19/02/2007 10:34 am, [Tersedia] http://ummusalma.wordpress.com/jalan-menuju-qanaah/ [Online] Selasa, 12 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar